![]()
Mentok-buser24 jam – Sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bangka Barat, wajah Kota Mentok justru terkesan semrawut Pantauan di seputaran Pasar Mentok hingga Terminal Bus, jalur perlintasan kendaraan dan pejalan kaki terlihat kacau. kanan-kiri jalan, kios-kios liar tumbuh tak tertata, menutup badan jalan dan trotoar.
Ironisnya, di tengah kesemrawutan itu berdiri bangunan-bangunan kuno bersejarah yang seharusnya jadi ikon. Beberapa bekas gudang timah era kolonial dan rumah mayor china tampak kusam, cat terkelupas, dan tak terurus. Padahal kawasan ini memenuhi syarat sebagai Kawasan Cagar Budaya.
“Ini pusat kabupaten lho. Tapi lihat, kios nempel didiatas tepian jalan bahkan badan jalan seakan memberikan kesan tidak adanya penataan dari Pemda hingga dibiarkan,” kata Rena, (45), penjual makanan dan kopi didalam Kawasan terminal.
Rena sedikitnya sesambil promosi daerah kelahirannya Mentok dikenal sebagai kota sejarah. Di sinilah jejak awal timah Bangka dimulai Kota ini juga dijuluki ‘Kota 1000 Kue’ karena ragam kuliner khasnya. Namun kini, banyak warga menyebut Mentok sebagai ‘kota mati’. Stigma itu muncul karena pusat kota yang seharusnya hidup justru tampak mati gaya: tata ruang kota tidak beraturan, hingga pedestrian hilang, bangunan sejarah kusam, dan aktivitas ekonomi hanya berputar pada cukupan.
Delema “Orang luar datang bingung. Mana pasar, mana terminal, mana cagar budaya padahal jika penataan ruang kota oenataannya baik tentunya kota mentok khususnya Kawasan ini sangat menarik perhatian Mentok adalah etalase Bangka Barat. Jika pusat kotanya dibiarkan semrawut, sulit menghapus stigma ‘kota mati’ dari benak publik,” ujar Rena,22 April 2026
Pengamat tata kota dari ISB Atma Luhur, Dedi Saputra, menilai Pemkab Babar mendesak melakukan penataan ulang kawasan Pasar-Terminal sebagai wajah depan kota. “Ini bukan cuma soal estetika. Ini soal keselamatan, ekonomi, dan identitas. Revitalisasi kawasan pusaka bisa jadi pemicu ekonomi kalau ditata,” katanya.
Hingga berita ini dipuplikasi, Kepala Dinas Perhubungan dan Kepala Dinas PUPR Bangka Barat belum merespons konfirmasi terkait semrawutnya jalur dan penataan kios. Kabid Kebudayaan dan pariwisata juga belum berkomentar soal perawatan bangunan cagar budaya. (Rd)
