![]()
PANGKALPINANG –Buser24jam.
Keputusan IP, 43 tahun, untuk menggugat cerai suaminya yang dipenjara, dulu terasa seperti satu-satunya jalan keluar. “Demi anak, demi masa depan,” katanya waktu itu.
Tapi ternyata saat palu hakim diketok, masalah barunya mulai bermunculan.
Gelar “janda” di KTP itu berat. Beratnya bukan di kertas, tapi di tatapan orang. Bisik-bisik tetangga, obrolan warung kopi, sampai chat grup Airobic. Statusnya berubah: dari “istri si A” jadi “si janda itu”.
Kini detak penyesalan paling terasa saat IP menginjakkan kaki ke rumah teman lamanya, sebut saja salah satunya yuk Larsi.
Dulu, rumah itu terbuka buat IP saat bertamu sesambil ngopi, ketawa bareng, curhat tanpa sekat. Yuk Larsi tidak pernah khawatir jika IP datang main kerumah.
Kini senyum Yuk Larsi berbeda dengan dulunya tatapan matanyapun penuh waspada di saat IP berajak dari ruang tamu menuju dapur
IP baru duduk 5 menit, obrolan belum nyambung, tiba-tiba yuk Larsi pamit ke dapur “bikinin kopi”. Padahal biasanya langsung ngeluarin camilan + ngobrol berjam-jam.
Terdengar suara bisikan Yuk Larsi bisik ke suaminya di dapur: “Bg, itu si IP… kamu jangan kebanyakan di depan ya dia kan janda baru…”
Detak jantung IP pelan, bukan marah tapi nyesek serasa saat itu ngerasa, saya udah bukan teman lagi. Saya udah jadi ‘ancaman’ di rumah orang,” ujar IP dengan suara tercekat.
Penyesalan itu datang bukan karena dia cerai. Tapi karena dia nggak nyangka: kehilangan suami, kehilangan teman, Kehilangan status “aman” di mata ibu-ibu lainnya.
Orang lihat IP cukup cantik, masih muda, janda, banyak orang menilai langsung ngelabel: “rawan, goda suami orang” dikarenakan IP sedikit mempunyai pengalaman kedekatan dengan Pria lain.
Meskipun beban berat ia jalani memikirkan bagaimana caranya menghindar dari tagihan hutang biaya sekolah anak, dan lainnya namun IP menjalankan dengan “tebar pesona” seperti yang orang kira.
“Kalau boleh milih, saya juga nggak mau jadi janda ujar IP. Saya mau rumah tangga saya utuh, tapi suami di penjara, nafkah hilang, kebutuhan banyak anak nangis minta jajan hingga saya jadi korban. Saya g punya kerjaan maupun pengalaman kerja jika ada jodoh lagi saya mau mendapatkan kehidupan baru tentunya lebih baik dari sebelumnya,” saya Harus Pilih mana” ucap IP sesambil memainkan Handphone membalas chating.
Kisah IP bukan pembelaan. Ini cermin. Cermin bahwa stigma “janda penggoda” masih hidup di masyarakat kita.
Saat hukum sudah memutus pernikahan, seringkali lingkungan belum siap memutus prasangka.
Dan detak penyesalan paling sakit, ternyata bukan saat tanda tangan akta cerai. Tapi saat pintu rumah teman yang dulu terbuka lebar, kini hanya terbuka setengah.( Rd)
