![]()
Buser24jam-Mentok
Terminal Penumpang Mentok, Bangka Barat, kini tinggal nama. Dari puluhan trayek antar kabupaten yang dulu ramai, kini cuma tersisa segelintir unit bus yang mangkal tanpa penumpang. Sementara Dinas Perhubungan Darat Bangka Barat dinilai diam seribu bahasa, membiarkan angkutan umum mati pelan-pelan digilas travel.
Harapan masyarakat punya transportasi umum murah dan merata di Bangka Barat kian pupus. Terminal Mentok yang seharusnya jadi urat nadi angkutan antar kabupaten kini sepi, sunyi, dan nyaris tak beraktivitas.
Hanya sekitar 20 unit bus yang masih bertahan melayani rute Mentok – Sungailiat, Tempilang, Belinyu, hingga Pangkalpinang. Selebihnya? Loket kosong, ruang tunggu kosong, dan sopir hanya bisa menatap jalan kosong.
“Sehari dapat penumpang hitungan jari. Orang sekarang milih travel, jemput di rumah, cepat, nyaman. Kami di terminal cuma bisa gigit jari,” keluh Sirun, petugas pencari penumpang di Terminal Mentok, Kamis (23/5/2026).
Sirun mengaku hanya mendapat komisi Rp10.000 per tiket. Tapi kalau penumpang tak ada, maka pendapatan nol. Ia menyebut penyebab utama adalah persaingan tidak sehat dengan travel yang menjamur tanpa kontrol.
Yang lebih menyakitkan, menurut Sirun dan sejumlah awak bus, “Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Perhubungan Darat seperti tidak peduli.
“Banyak tidak perduli. Ini pembiaran namanya. Terminal dibiarkan mati, distribusi angkutan daerah berantakan. Seharusnya Dishub hadir, atur, dan lindungi angkutan umum. Bukan diam saja,” tegasnya.
Kritik ini bukan tanpa alasan. Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan jelas menyebut pemerintah wajib menjamin tersedianya angkutan umum yang aman, nyaman, dan terjangkau. Tapi di Mentok, yang terjadi justru sebaliknya.
Travel bebas beroperasi tanpa batasan, menjemput penumpang di mana saja, sementara bus umum diikat aturan ketat, nunggu penuh, dan kalah bersaing soal waktu. Akibatnya, distribusi transportasi antar wilayah jadi timpang. Masyarakat di daerah pelosok yang tak dijangkau travel jadi korban.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perhubungan Darat Bangka Barat terkait kondisi terminal yang mati suri tersebut.

Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin Terminal Mentok akan jadi “monumen kegagalan” tata kelola transportasi daerah. Angkutan umum mati, travel menang, dan masyarakat kecil yang dirugikan.(red)
