![]()
Buser24jam.com,Ogan Ilir – Harapan tiga warga Kampung I, Desa Arisan Jaya, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, untuk memiliki hunian layak huni kembali pupus. Padahal mereka sudah sah terdaftar sebagai penerima Bantuan Stimulasi Perumahan Swadaya (BSPS) atau program bedah rumah pemerintah, berkas lengkap, dan proses sudah masuk tahap pembangunan. Namun kenyataan di lapangan: pekerjaan mandek di tengah jalan, bangunan belum selesai, dan mereka masih harus menumpang tidur serta memasak di rumah tetangga. Alasannya dari pemerintah desa: dana dianggap kurang, padahal nilai bantuan ditetapkan rata-rata Rp20 juta per unit .
Romlah, istri Jafar, salah satu penerima yang mewakili dua warga lainnya, mengaku kecewa berat. Menurutnya, bantuan yang diterima baru berupa bahan bangunan terbatas: satu kubik papan, 36 lembar seng, 13 batang tiang, 70 batang kayu rangka, dan paku seberat 10 kilogram. Tidak ada tambahan biaya atau bahan lagi, dan rumahnya masih setengah jadi, belum bisa ditempati.
“Belum selesai sama sekali. Kami mau tidak mau tidur dan masak masih numpang di tetangga. Kami rakyat kecil, sudah berharap besar, tapi dikata kurang anggaran. Padahal berkas kami sudah lengkap, sudah disetujui, kok berhenti di tengah jalan?” ungkap Romlah, Sabtu (23/5/2026).
Berdasarkan aturan resmi, program BSPS adalah bantuan berupa bahan bangunan dan dukungan teknis, dengan nilai stimulan rata-rata mencapai Rp20.000.000 per unit, ditujukan untuk perbaikan atau pembangunan rumah tidak layak huni, dengan pelaksanaan melibatkan semangat gotong royong warga . Ketiga warga ini – termasuk pasangan Jafar-Romlah – sudah lolos verifikasi administrasi, diverifikasi kelayakannya, dan diusulkan resmi lewat Pemerintah Desa Arisan Jaya ke dinas terkait. Secara administrasi mereka sah berhak menerima bantuan tuntas hingga rumah selesai.
Namun penjelasan dari Kepala Desa Arisan Jaya justru berbeda. Menurut keterangan yang disampaikan lewat Lembaga LIPER RI, Kades menyatakan: “Bantuan ini bukan berupa pembangunan penuh satu unit rumah selesai, tapi bentuk dukungan bahan, selebihnya dikerjakan bersama-sama oleh warga secara swadaya.”
Pernyataan ini langsung dipertanyakan Ketua LIPER RI beserta jajaran PD LIPER Nasional Muara Enim yang turun meninjau lokasi. Saat ditanya berapa total anggaran yang diterima desa untuk ketiga rumah ini dan rincian penggunaannya, Kepala Desa Arisan Jaya justru diam seribu bahasa dan tidak mau menjelaskan rincian dana.
“Kami pertanyakan dasar perhitungannya: dari mana sumber dana, berapa jumlah yang masuk, dan ke mana saja digunakan? Kalau nilainya sudah sesuai standar Rp20 juta, seharusnya cukup menyelesaikan perbaikan rumah warga. Kenapa jadi kurang? Ini yang kami soroti,” tegas Ketua LIPER RI.
Lembaga tersebut kini mendesak Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Ogan Ilir serta Bupati Ogan Ilir untuk segera turun langsung memeriksa. Diperlukan audit rinci penggunaan anggaran, verifikasi kesesuaian bahan yang diterima warga dengan nilai dana yang cair, dan memastikan apakah kekurangan anggaran itu benar ada atau ada hal lain yang tidak terungkap.
“Warga sudah menunggu, rumah mereka masih rusak dan tidak aman. Program ini hak mereka. Jangan sampai bantuan hanya setengah jadi, laporan dianggap selesai, tapi fakta di lapangan masih menyedihkan. Kami akan kawal sampai ada kejelasan dan rumah mereka selesai dibangun,” pungkas pernyataan LIPER RI.
Berita ini akan terus dikembangkan setelah ada tanggapan resmi dari Pemerintah Desa Arisan Jaya maupun instansi teknis terkait.(tim)
Editor: Joe
