buser24jam.com – MENTAWAI – Belum lama setelah rampung dikerjakan, kondisi permukaan beton pada sejumlah jembatan yang masuk dalam paket Penggantian Jembatan Sagitsi, Cs di Kabupaten Kepulauan Mentawai mulai menjadi perhatian. Pada sejumlah bagian lantai jembatan terlihat butiran pasir dan agregat atau kerikil terlepas dari permukaan beton.
Kondisi yang secara visual menyerupai kerontokan atau penguraian agregat pada permukaan beton tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan dan pengendalian mutu selama pelaksanaan proyek.
Paket Penggantian Jembatan Sagitsi, Cs merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat yang dilaksanakan dengan skema Multi Years Contract (MYC) 2022–2024.
Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh PT Amar-Sejahtera, KSO. Berdasarkan data yang dihimpun, nilai pekerjaan yang dipublikasikan BPJN Sumatera Barat sekitar Rp38,982 miliar, sementara pagu paket dalam dokumen pemilihan tercatat sebesar Rp41,78 miliar.
Empat Jembatan dalam Satu Paket
Paket bernilai puluhan miliar rupiah tersebut tidak hanya mencakup satu jembatan. Berdasarkan dokumen pemilihan, terdapat empat jembatan dengan total panjang 101,80 meter.
Keempatnya terdiri dari Jembatan Malabaek 1 sepanjang 18,60 meter, Jembatan Nem-Nem 26,60 meter, Jembatan Trans Sagitsi 16,60 meter, serta Jembatan Sagitsi sepanjang 40 meter.
Kondisi permukaan beton yang ditemukan saat ini menjadi perhatian karena konstruksi tersebut relatif masih baru. Pada sejumlah bagian lantai jembatan, permukaan beton terlihat tidak lagi padat dan utuh. Pasir serta agregat tampak terlepas sehingga tekstur permukaan terlihat kasar dan mengalami penguraian.
Sebagai perbandingan visual, sejumlah jembatan lain di Pulau Sipora yang dibangun lebih dahulu, seperti jembatan di kawasan Saureinu, Matobe dan Goisooinan, hingga kini terlihat masih memiliki kondisi permukaan beton yang relatif baik.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya perbedaan kualitas konstruksi. Setiap jembatan dapat memiliki desain, spesifikasi teknis, kondisi lingkungan dan beban yang berbeda.
Saksi Mata Ungkap Kondisi Saat Pembangunan
Persoalan kondisi permukaan beton menjadi semakin menarik untuk ditelusuri setelah muncul keterangan warga yang mengaku mengetahui dan menyaksikan proses pembangunan jembatan tersebut.
Menurut Ediyanto, pelaksanaan pekerjaan ketika itu sempat mengalami kendala, termasuk persoalan ketersediaan dan keterlambatan material.
Ia mengaku melihat adanya penggunaan pasir dan agregat lokal dalam proses pekerjaan. Berdasarkan pengamatannya ketika itu, material tersebut terlihat memiliki kandungan lumpur yang cukup tinggi.
“Pasir dan koral yang mereka pakai diangkut dari desa Saureinu, bercampur lumpur,” ungkapnya.
Keterangan saksi tersebut masih memerlukan konfirmasi dan pembuktian teknis. Pengamatan secara kasatmata tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa material yang digunakan tidak memenuhi persyaratan kontrak.
Demikian pula, kerontokan permukaan beton yang terlihat saat ini belum dapat langsung disimpulkan sebagai akibat penggunaan material tertentu. Penyebabnya membutuhkan pemeriksaan teknis maupun pengujian oleh pihak yang berkompeten.
Dokumen Pengujian Mutu Menjadi Penting
Untuk menjawab persoalan tersebut, hasil pengujian material dan beton pada saat pelaksanaan menjadi dokumen penting yang perlu diketahui publik.
Di antaranya adalah Concrete Mix Design, hasil pengujian material, hasil uji kuat tekan beton, laporan pengawasan pengecoran, as-built drawing serta dokumen serah terima pekerjaan.
Dokumen tersebut dapat memberikan gambaran apakah material dan beton yang digunakan telah memenuhi persyaratan teknis sebagaimana ditetapkan dalam kontrak.
Selain itu, perlu diketahui apakah kondisi permukaan beton pernah ditemukan pada saat pemeriksaan hasil pekerjaan, serah terima pertama pekerjaan (PHO), masa pemeliharaan maupun serah terima akhir (FHO).
Hingga berita ini diterbitkan, media ini belum memperoleh dokumen PHO/FHO maupun hasil pemeriksaan BPK, BPKP atau Inspektorat Jenderal Kementerian PUPR yang secara spesifik menyatakan adanya kekurangan mutu pada paket Penggantian Jembatan Sagitsi, Cs.
Karena itu, kondisi yang ditemukan di lapangan disampaikan sebagai fakta visual yang memerlukan penjelasan dan pemeriksaan lebih lanjut, bukan sebagai kesimpulan telah terjadi penyimpangan.
Pengawasan Proyek di Daerah Kepulauan Disorot
Karmen, yang dimintai tanggapan, menilai kondisi geografis Kepulauan Mentawai seharusnya menjadi alasan untuk memperkuat pengawasan terhadap proyek infrastruktur, bukan sebaliknya.
Menurutnya, jarak Mentawai yang relatif jauh dari pusat pemerintahan provinsi maupun pemerintah pusat membuat pengawasan lapangan memiliki tantangan tersendiri.
“Mentawai memang jauh dan untuk mencapai sejumlah lokasi membutuhkan perjalanan laut. Justru keadaan seperti ini menuntut pengawasan yang lebih ketat. Jangan sampai kontraktor beranggapan pekerjaan di daerah kepulauan tidak akan diperiksa secara serius karena jauh dari pusat pengawasan,” ujarnya.
Ia menilai proyek pemerintah yang dibiayai dengan uang negara harus menghasilkan konstruksi sesuai mutu yang diperjanjikan tanpa membedakan apakah pekerjaan berada di perkotaan atau daerah kepulauan.
“Kalau beton yang digunakan telah memenuhi mutu sebagaimana kontrak, tentunya ada hasil pengujiannya. Dokumen itu yang perlu diperlihatkan. Sebaliknya, apabila setelah diperiksa ditemukan ketidaksesuaian, harus dilakukan penanganan dan dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan,” katanya.
Menurutnya, pemeriksaan terhadap kondisi proyek yang telah selesai juga penting sebagai pembelajaran bagi berbagai pekerjaan infrastruktur yang sedang maupun akan dilaksanakan di Kepulauan Mentawai.
Pengawasan yang ketat sejak pemeriksaan material, pelaksanaan pekerjaan hingga serah terima dinilai diperlukan agar pembangunan infrastruktur di daerah kepulauan tetap menghasilkan kualitas yang sama dengan proyek di daerah lain.
BPJN dan Penyedia Perlu Memberikan Penjelasan
Untuk memperoleh informasi yang berimbang, BPJN Sumatera Barat dan PT Amar-Sejahtera, KSO perlu dikonfirmasi mengenai kondisi permukaan beton tersebut.
Sejumlah hal yang perlu mendapat penjelasan antara lain sumber dan hasil pengujian material yang digunakan, mutu beton yang dipersyaratkan dalam kontrak, hasil uji kuat tekan beton, pengawasan selama proses pengecoran serta status PHO dan FHO pekerjaan.
Penjelasan juga diperlukan untuk mengetahui apakah kerontokan atau penguraian agregat pada permukaan beton tersebut pernah ditemukan setelah pekerjaan selesai serta apakah telah dilakukan pemeriksaan ataupun penanganan.
Media ini akan melanjutkan penelusuran terhadap dokumen teknis, proses pengawasan dan serah terima pekerjaan untuk mengetahui lebih jauh kualitas pelaksanaan paket Penggantian Jembatan Sagitsi, Cs.
(Bersambung: Menelusuri Mutu Beton dan Dokumen Pengujian Jembatan Sagitsi, Cs)























Komentar