![]()
Buser24jam.com,PALEMBANG – Praktik dugaan penyelewengan dan pengoplosan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertamina kembali mencuat dan beroperasi sangat rapi di Kota Palembang. Aksi ilegal ini diduga kuat melibatkan oknum sopir mobil tangki dan diduga kuat juga melibatkan oknum anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Kegiatan “bisnis” gelap ini beroperasi di wilayah Kecamatan Kertapati, tepatnya di sebuah gudang yang diduga milik seseorang berinisial IAN yang berlokasi di Jalan H. Sarkowi B, Kelurahan Keramasan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, modus operandi yang digunakan sangat canggih untuk mengelabui sistem monitoring Pertamina.
Diketahui, dua oknum sopir berinisial Wahyu dan Mukti menjadi aktor utama. Caranya, mereka melepaskan alat pelacak GPS dari mobil tangki operasional mereka.
GPS tersebut kemudian diserahkan kepada rekan yang mengendarai sepeda motor untuk dibawa berputar dengan kecepatan stabil 30-40 km/jam, sehingga di layar monitor pusat terlihat seolah-olah mobil tangki sedang berjalan normal menuju SPBU tujuan.
Sementara sinyal GPS dibawa berputar, Wahyu dan Mukti justru melarikan mobil tangki merah putih tersebut menuju gudang milik Ian di Jalan H. Sarkowi.
Di lokasi gudang tersebut terjadi proses yang biasa disebut “kencing” atau pertukaran minyak.
Minyak oplosan/olahan ilegal yang diduga berasal dari Sungai Angit dimasukkan ke dalam tangki Pertamina, sedangkan BBM asli (Pertalite, Pertamax hingga Solar) yang seharusnya didistribusikan ke masyarakat diturunkan ke gudang Ian.
Dari setiap aksi, oknum sopir dikabarkan meraup keuntungan bersih hingga belasan juta rupiah. Jumlah BBM yang digelapkan pun fantastis, mencapai 5 hingga belasan ton sekali jalan.
BBM curian yang sudah dicampur oplosan tersebut disinyalir kembali diedarkan ke SPBU dan Pertashop. Akibatnya, masyarakat menjadi korban.
Banyak pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat yang mengeluhkan kerusakan parah setelah mengisi BBM di wilayah tersebut. Mulai dari mesin brebet, tenaga loyo, hingga harus mengeluarkan biaya mahal untuk turun mesin (bongkar mesin) karena kerusakan yang permanen.
Pengawasan pihak Pertamina kini dipertanyakan besar, bagaimana bisa BBM oplosan bisa lolos dan masuk ke jalur distribusi resmi.
Yang mengejutkan, gudang milik IAN ini tidak hanya menampung hasil curian, tapi juga menjual BBM bersubsidi secara terang-terangan kepada masyarakat umum yang datang langsung.
Lokasi gudang ini berada di kawasan strategis, tidak jauh dari perumahan Citraland, namun terus beroperasi tanpa ada tindakan tegas. Hal ini memunculkan dugaan kuat adanya oknum aparat yang “menutup mata” dan melicinkan usaha ilegal ini.
Menanggapi keresahan masyarakat, Gabungan Pemuda Peduli (GPP) Sumsel siap mengambil langkah hukum. Mereka berencana melaporkan praktik ilegal ini beserta seluruh aktornya ke Polda Sumatera Selatan.
“Ini sudah keterlaluan. Mereka merampas hak subsidi masyarakat, merugikan negara, dan merusak kendaraan warga. Kami meminta Polda Sumsel bertindak tegas. Jangan ada tebang pilih, siapapun oknum yang terlibat, baik dari sopir, oknum TNI, maupun yang melindungi harus diproses hukum berat,” tegas perwakilan GPP Sumsel.
Hingga berita ini diturunkan, tim investigasi masih berupaya melakukan konfirmasi resmi kepada pihak Pertamina terkait dugaan keterlibatan oknum sopir mereka dalam kasus ini.Red”(tim)
Editor:JND
