![]()
Mentok-buser24jam-
Sejarawan Bangka, Drs. Ahmad Elvian, dalam beberapa tulisannya menyebut Mentok alias Muntok sejak era kolonial Belanda jadi ‘voorhaven’ alias pelabuhan depan Pulau Bangka. Letaknya strategis: berhadapan langsung dengan Selat Bangka, termaksut jalur pelayaran tersibuk menuju Palembang dan Singapura.
Timah dari tambang-tambang Bangka Barat dikumpulkan di gudang-gudang NV Banka Tin Winning di Mentok, lalu dimuat ke kapal-kapal uap. Dari Mentok juga kapal layar dan tongkang membawa beras, garam, kain, dan gula dari Palembang untuk menghidupi ribuan kuli tambang dan warga di pedalaman. “Pelabuhan Mentok itu etalase. Semua pejabat, insinyur Belanda, sampai pedagang Tionghoa pertama kali injak Bangka di Mentok, sebagai Nadi Timah dan Beras Tahun 1800-an hingga 1980-an”
Hingga era PN Timah 1970-1980an, dermaga kayu Mentok masih jadi tempat _lele_ – sebutan untuk kapal kecil – bongkar sembako. Anak-anak pesisir ingat betul: karung beras diikat 5-5, digotong kuli ke gudang, lalu diangkut truk ke Jebus, Kelapa, Tempilang dan lainnya tulis Elvian dalam _Sejarah Muntok_ (2012).
Aroma garam masih sama. Debur ombak di ujung dermaga juga tak berubah. Namun Pelabuhan Mentok hari ini bukan Pelabuhan Mentok 40 tahun lalu. Panas sinar matahari di siang hari kolam pelabuhan justru terlihat seperti kubangan lumpur raksasa. sekian banyak perahu nelayan tertidur miring, lunasnya mencium dasar. “menandakan surut dan menantikan pasang air pasang hingga kapal motor tegak kembali,
Rusdan pria lajang anak buah Ajang berdiri ditepian kolam pelabuhan sesambil memperhatikan keadaan lunas kapal yang kandas mengatakan keadaan seperti ini seingat saya sejak akhir tahun 1990-an. Pelabuhan ASDP di Tanjung Kalian diresmikan Kapal feri ro-ro bisa angkut kendaraan truk langsung ke dalam kapal dari Sumatera. Distribusi maupun kegiatan di pelabuhan berubah “Ngapain bongkar di pelabuhan Mentok yang nantinya bongkar muat lagi ke truk, kalau truknya bisa ikut naik feri sekalian?” ujarnya 18 April 2026
Dihubungi Firdaus pengamat kepelabuhanan Bangka Barat.Mengatakan apa yang di sampaikan Rusdan itu “Benar”. Logistik jadi lebih cepat dan praktis. Ekonomi Mentok ikut tumbuh karena arus barang lancar. Tapi pelan-pelan, kapal kayu, kapal layar, dan kapal sembako meninggalkan Pelabuhan Mentok dermaga tua ini jadi sepi.
Keadaan terkini ternyata tidak lagi lalu lintas kapal besar, arus di kolam pelabuhan melemah, sedimentasi dari hulu sungai dan sampah domestik warga pesisir bahkan terjadinya abrasi pantai membawa lumpur Kedalam kolam pelabuhan pun menjadi dangkal. “Jangankan kapal kayu ukuran besar, perahu nelayan saja kandas saat air surut 0 cm dan di beberapa titik tanggul penahan ombak namun pelabuhan ini masih mempunyai denyut yang tersisa yaitu “Nelayan dan Kerinduan harapan’
Pelabuhan Mentok belum mati. pada kenyataannya setiap hari masih ada pendaratan kapal ikan, keluar masuk barang kebutuhan dan adanya warung kopi tetap buka, jadi tempat nelayan rehat sambil bahas harga tangkapan melaut maupun lainnya hanya saja pelabuhan mentok ini butuh perhatian khusus dengan opsi teknis: jadikan Pelabuhan Mentok sebagai pelabuhan pengumpan. “dibutuhkan cukup pendalaman keruk -3 meter LWS saja diharapkan bisa masuk lagi nantinya kapal 35 GT angkut hasil laut dan UMKM Ekonomi pesisir hidup,” tidak harus kapal besar tutupnya. (red)
