![]()
Pangkalpinang, Buser24jam-26-6-2026 Penyesalan selalu datang terlambat. Kalimat klasik ini tepat menggambarkan kondisi Inches (43), seorang ibu tiga anak baru tiga bulan menyandang status janda setelah gugatan cerainya dikabulkan pengadilan Agama Pangkalpinang. Kini, di tengah hilangnya sosok kepala keluarga, Inches harus menghadapi kenyataan pahit akibat keputusan impulsifnya. Bukan hanya salah mengelola finansial, ia kini merutuki keputusannya yang telah mencampakkan pria tulus demi mengejar status sosial.
Usai ketuk palu, Inches mengambil langkah ekstrem dengan menjual rumah beserta seluruh isinya. Namun, alih-alih mengalokasikan dana tersebut sebagai modal usaha atau tabungan masa depan ketiga anaknya, uang hasil penjualan justru habis dibelikan sepeda motor baru dan deretan perhiasan mewah.
Bagi perempuan paruh baya ini, penampilan luar adalah segalanya. inches lebih memilih menonjolkan citra hidup mewah (hedonisme) ketimbang hidup dalam kesederhanaan, sekalipun statusnya saat ini tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap.
“Kalau saya mah gampang aja,” ujar Inches sambil tertawa kecil dengan nada menggoda, seolah menyembunyikan beban yang kian menumpuk.
Di balik tawa centilnya, Mawar sebenarnya menyimpan badai penyesalan yang sangat dalam. Jauh sebelum ia memutuskan menggugat cerai suaminya, ada seorang pria tulus yang sangat menghargai dan memperhatikannya. Pria tersebut bahkan sudah sangat dekat dan menyayangi anak-anak serta orang tua Mawar.
Namun, ketulusan itu runtuh seketika kenalan dengan pria lain. Pria baru itu Namanya ID datang membawa iming-iming kemewahan dan menyilaukan mata Inches dengan status pekerjaannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) bagian staf strategis. Di Pangkalpinang Terlebih lagi meliki usaha tambang dan mengaku seorang duda. “Tentu saya pilih yang mapan dibandingkan yang lainnya,” akui Inches dengan tatapan yang mulai meredup.
Rasa sayangnya kepada pria tulus yang pertama langsung sirna, berganti obsesi untuk hidup mewah bersama sang ASN. Hal inilah yang memantapkan tekadnya untuk menggugat cerai sang suami lalu menjual seluruh aset rumah tangganya, berharap bisa memulai hidup baru. Namun, harapan itu kini berujung pada zonk dan kepalsuan.
Di balik gaya hedon Inches, ada realitas kelam yang harus dihadapi ketiga anaknya. Kehilangan sosok ayah kandung, ditambah hilangnya rumah tinggal dan hilangnya pria tulus yang sempat menyayangi mereka, menciptakan guncangan psikologis yang besar bagi anak-anak. Ketergantungan pada nenek mereka dan kakak sulung yang baru bekerja menambah beban struktural dalam keluarga tersebut.
Pasca-perpisahan Kini, Inches berada dipersimpangan jalan. Antara mempertahankan gengsi di paruh baya, atau mulai menatap realistis demi masa depan ketiga anaknya yang telanjur kehilangan figur seorang bapak dan rumah tempat bernaung. (TW)
